Tarif Kapal Penyeberangan Melak-Mook Manaar Bulatn Melonjak 4 Kali Lipat, Imbas Banjir Mahakam

KUTAI BARAT — Banjir besar akibat luapan Sungai Mahakam mengubah total jalur transportasi air yang menghubungkan Kecamatan Melak dan Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Akses penyeberangan kapal yang berlokasi di sisi Jembatan Aji Tullur Jejangkat (ATJ) kini harus menghadapi medan ekstrem. Kondisi ini memicu lonjakan tarif kapal hingga empat kali lipat yang dikeluhkan oleh para pengguna jasa, mulai dari sopir ekspedisi hingga warga lokal.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Jika dalam kondisi normal kapal penyeberangan hanya perlu melintasi Sungai Mahakam secara lurus, kini rute tersebut berubah menjadi jauh lebih panjang dan berliku. Operator kapal terpaksa memutar arah membelah kawasan yang terendam banjir, serta menerobos rimbunnya pepohonan dan semak-semak.

Rizal, salah seorang operator kapal penyeberangan menceritakan, derasnya arus sungai memaksa mereka bertaruh nyawa untuk membuat jalur baru di area yang tergenang air bah.

“Susah, arusnya deras. Sudah masuk-masuk di semak-semak itu, dibikin dulu jalannya baru bisa masuk penyeberangan ini,” ujar Rizal saat ditemui di lokasi penyeberangan. Meski berbahaya, Rizal mengaku hal ini tetap dilakukan demi menjaga mobilitas masyarakat antarkecamatan agar tidak lumpuh total.

Perubahan rute yang memutar jauh ini berdampak langsung pada ongkos operasional. Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) melonjak drastis karena mesin kapal harus bekerja lebih keras melawan arus. Rizal menyebutkan, jika biasanya mereka hanya menghabiskan 20 liter BBM, kini kebutuhannya membengkak hingga 40-45 liter untuk sekali jalan.

Kondisi inilah yang memaksa operator menaikkan tarif penyeberangan secara signifikan. Berdasarkan data di lapangan, berikut adalah rincian lonjakan tarif penyeberangan selama masa banjir:

Untuk kendaraan sepeda motor yang biasanya hanya dikenakan tarif Rp 5.000, kini dalam kondisi banjir harus membayar Rp 25.000. Bahkan saat kondisi arus sedang sangat ekstrem, tarif motor bisa melambung hingga Rp 50.000 sekali sebrang, atau mencapai Rp 100.000 untuk perjalanan pulang-pergi.

Sementara itu, untuk kendaraan roda empat berukuran kecil yang biasanya hanya membayar Rp 50.000, kini melonjak drastis menjadi Rp 150.000. Beban lebih besar harus ditanggung oleh kendaraan besar atau truk ekspedisi; tarif normalnya yang semula Rp 50.000 kini dipatok mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 250.000 untuk sekali jalan, yang berarti pengguna jasa harus merogoh kocek hingga Rp 500.000 untuk perjalanan pulang-pergi.

Kenaikan tarif ini menjadi beban berat yang mencekik bagi warga yang harus menyeberang setiap hari untuk bekerja atau berdagang. Daniel, seorang pedagang sayur lokal yang sehari-hari menggunakan mobil logistik, mengeluhkan tingginya biaya baru tersebut.

“Bagi kita keberatan, Mas. Karena kita hari-hari bolak-balik menyeberang ada keperluan ambil sayur. Jadi kalau untuk biaya Rp 150.000 itu, ya mungkin habis di situ saja untung kita, kosong,” keluh Daniel gusar. Daniel membenarkan bahwa pada kondisi arus tertentu, tarif mobil pribadi bahkan sempat menyentuh angka Rp 250.000 sekali jalan atau Rp 500.000 untuk perjalanan pulang-pergi (PP).

Senada dengan Daniel, Idul, seorang sopir ekspedisi yang ikut terjebak dalam situasi pelik ini, mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi alam namun berharap ada kebijakan tarif yang lebih meringankan. “Mau berbuat apa, ongkos seberangnya ya kayak gitu. Harapannya ya bisa dimurahkan sedikit lah,” tutur Idul.

Kondisi ini memicu dilema berlapis di lapangan. Di satu sisi, pedagang kecil dan sopir logistik menjerit karena pendapatan mereka habis untuk ongkos angkut. Di sisi lain, operator kapal juga menghadapi risiko keselamatan yang tinggi serta biaya BBM yang naik dua kali lipat.

Masyarakat berharap adanya perhatian dan intervensi dari instansi berwenang agar ada standardisasi tarif penyeberangan darurat yang adil bagi kedua belah pihak selama masa bencana berlangsung.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60