Pasien Jantung di Kutai Barat Capai 60–70 Orang per Hari, Dokter Dorong Percepatan Pembangunan Cath Lab

SENDAWAR – Angka kasus penyakit jantung di Kabupaten Kutai Barat tergolong tinggi.

Setiap hari, poli jantung menerima puluhan pasien, sementara rumah sakit juga masih melayani rujukan dari Kabupaten Mahakam Ulu yang belum memiliki dokter spesialis jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Zainal Fathurohim, mengatakan tingginya jumlah pasien menjadi alasan penting untuk memperkuat layanan jantung di daerah, termasuk melalui pembangunan fasilitas Cath Lab di RSUD HIS.

“Di Kutai Barat, angka kejadian penyakit jantung cukup tinggi. Di poli jantung, rata-rata setiap hari terdapat sekitar 60–70 pasien rawat jalan. Itu belum termasuk pasien rawat inap maupun pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit lain,” katanya, Minggu (26/7/2026).

Ia menjelaskan, RSUD HIS tidak hanya melayani masyarakat Kutai Barat, tetapi juga menerima pasien dari Mahakam Ulu karena daerah tersebut belum memiliki dokter spesialis jantung.

“Rumah sakit kami juga melayani pasien dari Mahakam Ulu karena di sana belum tersedia dokter spesialis jantung. Harapannya, melalui pembangunan Cath Lab di RSUD HIS yang direncanakan pemerintah daerah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, penanganan penyakit jantung dapat dilakukan langsung di Kutai Barat sehingga pasien tidak perlu dirujuk jauh,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan Cath Lab akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena dapat memangkas biaya nonmedis yang selama ini menjadi kendala bagi pasien.

“Dengan begitu, biaya transportasi dan akomodasi yang cukup besar juga dapat ditekan karena tidak semua masyarakat mampu menanggung biaya tersebut. Di sisi lain, melalui kolaborasi PERKI dan Yayasan Jantung Indonesia, kami juga terus saling membantu, memberikan edukasi, dan mendukung pasien maupun keluarganya agar kualitas kesehatan masyarakat, khususnya di bidang penyakit jantung, semakin baik,” jelasnya.

Ia menjelaskan, YJI juga memberikan perhatian kepada pasien kurang mampu yang harus dirujuk ke pusat layanan jantung di Jakarta.

Meski biaya operasi jantung, pemasangan ring, dan obat-obatan telah ditanggung BPJS, masih banyak pasien yang kesulitan memenuhi biaya transportasi, akomodasi, dan kebutuhan selama menjalani pengobatan.

“Melalui komunitas YJI, para anggotanya juga saling mendukung, baik dalam bentuk edukasi maupun bantuan. Misalnya, ketika ada pasien yang kehabisan obat dan belum mampu membeli, anggota lain dapat membantu meminjamkan obat. Saya sendiri sudah mengikuti kegiatan YJI sejak masih kuliah,” ucapnya.

Menurutnya, semangat saling mendukung di dalam komunitas menjadi salah satu kekuatan YJI dalam mendampingi pasien penyakit jantung.

Tidak hanya membantu dari sisi finansial, komunitas tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman sehingga pasien dan keluarganya lebih memahami proses pengobatan serta termotivasi menjalani terapi secara disiplin. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60