KUTAI KARTANEGARA — Tim konservasi Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) masih menyelidiki penyebab kematian satu Pesut Mahakam jantan yang ditemukan mati di kawasan Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara.
Pesut bernama Lion itu diketahui merupakan individu lama yang telah masuk dalam pemantauan peneliti sejak 1999. Selama lebih dari dua dekade, Lion menjadi salah satu pesut yang kerap teridentifikasi dalam studi populasi di Sungai Mahakam.
Peneliti Yayasan RASI, Danielle Kreb, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian pesut tersebut karena sampel hasil nekropsi masih akan diperiksa di laboratorium.
“Setiap pesut merupakan tanda dari alam. Makanya kita lagi menyelidiki kenapa dia mati,” ujar Danielle, Kamis (7/5/2026).
Menurut dia, pemeriksaan membutuhkan waktu karena seluruh analisis harus dilakukan berdasarkan hasil uji sampel yang diambil dari tubuh pesut.
“Harus berdasarkan sampel yang akan diuji di lab jadi memakan waktu mungkin sebulan,” katanya.
Danielle meminta publik tidak berspekulasi mengenai penyebab kematian Lion sebelum hasil pemeriksaan keluar. Ia menegaskan tim masih mengumpulkan data untuk memastikan faktor yang menyebabkan pesut tersebut mati.
“Jadi saat ini kita belum bisa berikan keterangan tentang penyebab kematian, jadi mohon sabar sebelum kita bisa memastikan penyebab kematiannya itu,” ujarnya.
Lion disebut sebagai salah satu individu penting dalam penelitian Pesut Mahakam karena telah teridentifikasi sejak awal studi fotoidentifikasi dilakukan di Sungai Mahakam pada 1999.
Selain dikenal lama oleh peneliti, kondisi usia Lion juga disebut sudah tidak muda lagi. Meski demikian, Danielle mengatakan lumba-lumba air tawar masih dapat hidup hingga usia sekitar 50 tahun.
“Ya sudah cukup tua meskipun lumba-lumba bisa sampai 50 tahun,” katanya.
Kematian Lion kembali menjadi perhatian pegiat konservasi di Kalimantan Timur di tengah terus menurunnya populasi Pesut Mahakam di habitat alaminya.





