KUTAI BARAT – Banjir kiriman dari wilayah hulu Sungai Mahakam di Kabupaten Mahakam Ulu kini mulai meluas dan merendam sejumlah permukiman di Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Selain dipicu oleh tingginya curah hujan lokal, debit air terus merangkak naik secara signifikan akibat besarnya volume air kiriman dari kawasan hulu sungai yang belum surut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Barat mencatat, sedikitnya sembilan kampung di Kecamatan Tering kini terendam banjir. Wilayah yang terdampak paling parah di antaranya adalah Kampung Tering Seberang, Tering Lama, Tukul, dan Jelemuk.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 1.340 rumah yang dihuni oleh lebih dari 5.700 jiwa terdampak langsung oleh bencana ini. Ketinggian air di beberapa titik dilaporkan telah mencapai satu meter.
Akibat genangan air yang tinggi, aktivitas warga lumpuh total. Jalur transportasi darat dari Kampung Jelemuk menuju Kampung Tering terputus karena terendam air setinggi pinggang orang dewasa. Tidak hanya jalan antarkampung, akses Jalan Provinsi yang menghubungkan Kutai Barat menuju Mahakam Ulu juga dilaporkan mulai terganggu dan sulit dilalui kendaraan.
M. Nur, salah seorang warga Kampung Tering Seberang, mengungkapkan bahwa air mulai masuk ke dalam rumah dan kios milik warga sejak tiga hari yang lalu. Menurutnya, laju kenaikan air pada hari ini terjadi sangat cepat.
“Sudah tiga hari ini. Hari ini makin tinggi airnya, Pak, naiknya cepat. Ini sudah sampai di atas lutut, kalau di kios-kios sudah se-sini (dada). Di dalam rumah sudah masuk airnya, jadi kami sudah bikin bale-bale untuk tempat tidur. Sangat mengganggu, mau beli barang apa susah keluar, jalan kaki susah,” ujar M. Nur, Rabu (20/5/2026).
Selain melumpuhkan mobilitas warga dan merendam permukiman, banjir juga berdampak langsung pada fasilitas pendidikan. Aktivitas belajar-mengajar di sejumlah sekolah terpaksa diliburkan secara total, termasuk di antaranya SDN 004 Jelemuk dan MTs 001 Tering Seberang.
Guna mengantisipasi situasi yang kian memburuk, warga secara mandiri mulai membangun dipan darurat atau panggung (bale-bale) di dalam rumah mereka agar tetap bisa beristirahat dan mengamankan barang berharga dari jangkauan air.
Menyikapi kondisi tersebut, BPBD Kutai Barat kini telah resmi menetapkan status Siaga Banjir. Pihak BPBD mengimbau masyarakat di sepanjang aliran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan penuh.
Warga diminta untuk segera mengamankan dokumen-dokumen penting, mematikan aliran listrik untuk menghindari korsleting, serta memperketat pengawasan terhadap anak-anak dan lansia guna menghindari risiko terseret arus banjir.








