KUTAI BARAT – Ancaman banjir besar yang kerap merendam Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, kini kian mengkhawatirkan warga setempat. Kondisi bentang alam yang dikelilingi sungai dan danau, serta minimnya dataran tinggi, membuat kawasan ini sangat rawan tenggelam dengan ketinggian air mencapai empat meter.
Merespons ancaman tahunan tersebut, warga mendesak pemerintah agar segera membangun infrastruktur berupa pelabuhan terapung. Fasilitas ini nantinya akan difungsikan sebagai tempat pengungsian darurat saat banjir melanda.
Kampung Muara Beloan memiliki luas wilayah mencapai 8.430 hektare. Namun, seluruh kawasan tersebut sama sekali tidak memiliki dataran tinggi atau perbukitan.
Saat ini, sebagian warga dari 22 rumah yang terdampak hanya bisa bertahan dengan membuat panggung darurat di dalam rumah mereka masing-masing.
Dikepung Sungai dan Danau
Potensi bahaya kian tinggi karena debit air di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh luapan Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Pahu. Selain dua sungai besar tersebut, pemukiman warga juga dikepung oleh dua danau besar dan lima danau kecil yang membuat air meluap dengan cepat ke pemukiman.
Kondisi geografis ini membuat akses evakuasi warga menjadi kian sulit saat debit air terus merangkak naik. Kawasan perbukitan terdekat berjarak 15 kilometer dan sulit dijangkau oleh warga yang terjebak.
Selain itu, jalur utama darat menuju pusat kabupaten yang berjarak 40 kilometer juga seringkali terisolasi karena terendam banjir hingga ketinggian empat meter.
Desak Pelabuhan Terapung
Kepala Kampung Muara Beloan, Rudy Suhartono, menyatakan bahwa warga sangat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat segera merealisasikan pembangunan pelabuhan terapung tersebut.
“Fasilitas terapung dinilai menjadi solusi terbaik dan paling realistis sebagai titik kumpul serta lokasi pengungsian mandiri yang aman bagi warga,” ujar Rudy.
Dengan adanya pembangunan pelabuhan terapung ini, warga berharap mendapatkan jaminan keselamatan yang lebih baik, sehingga dampak buruk serta kerugian materiil akibat bencana banjir tahunan dapat diminimalisir.







