KUTAI TIMUR – Dua individu orangutan, yakni induk bernama Mauliyan (17) dan bayinya, Ariandi (3), yang sempat viral di media sosial karena kondisinya yang sangat kurus di area pertambangan, kini telah berhasil dilepasliarkan kembali ke alam.
Keduanya dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, setelah menjalani masa pemulihan intensif selama enam bulan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, mengonfirmasi bahwa proses evakuasi telah dilakukan sejak akhir September 2023 setelah video satwa tersebut melintas di jalan hauling tambang batu bara viral di media sosial.
“Hasil rescue tersebut, kita memastikan bahwa perlu adanya upaya rehabilitasi, terutama terkait dengan kesehatannya, bukan rehabilitasi tingkah lakunya. Tingkah lakunya menurut kami masih liar,” ujar Ari.
Terjepit di Antara Konsesi Tambang
Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), kedua orangutan tersebut ditemukan di perbatasan antara PT Ganda Alam Makmur (luas konsesi 10.600 hektar) dan PT Indexim (luas konsesi 25.000 hektar) di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur.
Kedua perusahaan ini aktif beroperasi di Lanskap Karaitan, sebuah kawasan meta populasi orangutan yang mencakup tiga kecamatan, yakni Bengalon, Kaubun, dan Kaliorang. Aktivitas pertambangan batubara, perkebunan kelapa sawit, hingga Hutan Tanaman Industri (HTI) di kawasan tersebut membuat habitat orangutan kian terfragmentasi menjadi pulau-pulau kecil yang tidak saling terhubung, sehingga satwa endemik Borneo ini kesulitan mengakses sumber pakan.
Kondisi Kritis Saat Dievakuasi
Saat dievakuasi oleh tim gabungan pada akhir September 2023, kondisi Mauliyan sangat memprihatinkan akibat kekurangan pakan.
Manager Pusat Rehabilitasi Orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) – Centre for Orangutan Protection (COP), Widi Nursanti, mengungkapkan bahwa Mauliyan mengalami malnutrisi parah dengan skor kondisi tubuh (Body Condition Score/BCS) hanya 1,5 dari skala 5.
“Dia mengalami dehidrasi, kondisi tulang terlihat jelas, kulitnya sangat kering, dan hampir seluruh rambut di tubuhnya hilang. Saat diperiksa, air ASI yang keluar juga sedikit, padahal dia harus menyusui anaknya, Ariandi,” jelas Widi.
Kondisi tersebut sempat memburuk lima hari pasca-evakuasi. Paramedis COP, Miftachul Hanifah, menyebutkan Mauliyan sempat pingsan akibat mengalami hipokalsemia (kekurangan kalsium) dan hipoglikemia (kadar gula darah rendah hingga 52 mg/dL) karena akumulasi nutrisi yang buruk dan energi yang terkuras untuk menyusui.
“Tim medis segera melakukan terapi cairan infus Dextrose, pemberian cairan elektrolit dua kali sehari, serta mendongkrak porsi makannya hingga dua kali lipat dibanding orangutan lain. Kami berikan suplemen alpukat yang kaya lemak dan susu kedelai,” kata Miftachul.
Pulih dan Kembali ke Alam
Berbeda dengan induknya, sang bayi, Ariandi, ditemukan dalam kondisi fisik yang relatif ideal dengan skor tubuh 3/5, meski mengalami kulit kering di bagian kepala. Selama masa perawatan, sifat liar dan insting protektif Mauliyan terhadap anaknya tetap terjaga dengan baik.
Intervensi medis tersebut membuahkan hasil positif. Pada Desember 2023, berat badan Mauliyan naik 9 kilogram dari berat awal yang hanya 19 kilogram. Pada Maret 2024, berat badannya mencapai 34 kilogram (total kenaikan 14 kg), rambutnya tumbuh kembali, dan kondisi fisiknya dinyatakan sehat sepenuhnya.
Karena sifat liarnya yang masih terjaga dan tidak memerlukan rehabilitasi perilaku, BKSDA Kaltim bersama COP langsung melepasliarkan ibu dan anak orangutan ini pada Maret 2024 ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Pihak BKSDA memastikan akan terus memantau pergerakan kedua individu tersebut untuk menjamin adaptasi mereka di habitat yang baru.





