PT BEK Pilih Investasi pada Guru, Beasiswa dan Insentif Jadi Jawaban atas Krisis Tenaga Pendidik di Pedalaman

KUBAR – Ketika banyak program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berfokus pada pembangunan fisik, PT Bharinto Ekatama (PT BEK) memilih jalur berbeda.

Perusahaan tambang batu bara itu mengarahkan investasi sosialnya pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya guru yang mengabdi di wilayah pedalaman sekitar area operasional perusahaan.

Pilihan tersebut berangkat dari persoalan nyata yang ditemukan di lapangan.

Sejumlah sekolah masih kesulitan mendapatkan tenaga pendidik, meski jumlah peserta didik terus bertambah.

Salah satunya terjadi di Kampung Besiq Bermai, Kabupaten Mahakam Ulu.

Community Development Head PT Bharinto Ekatama, Kristinawati, mengatakan perusahaan sengaja memprioritaskan program pengembangan kapasitas guru karena menilai pembangunan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan gedung sekolah, tetapi juga kualitas tenaga pengajarnya.

“Untuk program pendidikan di PT Bharinto Ekatama, memang beberapa tahun terakhir kami lebih berkonsentrasi pada pengembangan atau peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kami berpikir bahwa pembangunan infrastruktur pada dasarnya menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah. Karena itu, kami memilih fokus pada pengembangan guru dan sekolah-sekolah di sekitar wilayah operasional perusahaan,” katanya, Jumat (31/7/2026).

Menurut dia, evaluasi yang dilakukan perusahaan menunjukkan masih sedikit guru yang bersedia mengajar di sekolah-sekolah pedalaman.

Padahal, jumlah siswa di beberapa sekolah cukup besar.

Di Besiq Bermai, misalnya, jumlah murid pernah mencapai lebih dari 100 orang, sementara tenaga pendidiknya sangat terbatas.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan memberikan dukungan melalui pembayaran honor atau insentif bagi guru agar proses belajar mengajar tetap berlangsung.

Namun, persoalan baru muncul ketika sebagian guru lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan dipindahkan ke sekolah lain.

Perpindahan itu kembali meninggalkan kekosongan tenaga pendidik di sekolah asal sehingga kebutuhan guru tetap menjadi tantangan yang harus diatasi.

“Sebelum ada program beasiswa, kami sudah mendukung beberapa guru melalui pemberian honor atau insentif. Tetapi ketika ada seleksi PPPK, beberapa guru diterima dan ditempatkan di sekolah lain. Akibatnya, sekolah yang sebelumnya kekurangan guru menjadi semakin kekurangan tenaga pengajar,” ujarnya.

Ia mengatakan perusahaan sebelumnya telah membantu sekolah-sekolah di wilayah operasional dengan menambah guru honorer melalui pemberian honor atau insentif. Namun, evaluasi di lapangan menunjukkan masih ada persoalan yang lebih mendasar.

“Kami kembali menambah beberapa guru honorer dan memberikan dukungan berupa honor atau insentif. Setelah kami melihat lebih jauh, ternyata persoalannya bukan hanya kekurangan guru. Kami juga menemukan bahwa beberapa guru tidak bisa mengikuti seleksi PPPK karena belum memiliki kualifikasi pendidikan S1,” jelasnya.

Berangkat dari temuan tersebut, perusahaan mulai merancang program beasiswa bagi guru pada 2024.

Program itu ditujukan bagi tenaga pendidik yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana agar dapat melanjutkan kuliah tanpa terbebani biaya pendidikan.

Menurutnya, sebagian guru kini telah menjalani perkuliahan, sementara seluruh pembiayaan pendidikan mereka ditanggung oleh perusahaan.

Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga membuka peluang yang lebih besar bagi mereka untuk mengikuti seleksi PPPK setelah memenuhi persyaratan akademik.

“Melalui program ini, guru-guru yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana kami fasilitasi untuk melanjutkan kuliah hingga jenjang S1. Sebagian di antaranya sudah menjalani perkuliahan dan perusahaan mengambil alih pembiayaan beasiswa tersebut. Harapannya, mereka memiliki kesempatan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan sekaligus memenuhi syarat untuk mengikuti seleksi PPPK,” imbuhnya.

Saat ini, program beasiswa tersebut telah menjangkau puluhan tenaga pendidik.

Di Kalimantan Timur terdapat 18 guru penerima beasiswa, sedangkan jika digabungkan dengan Kalimantan Tengah, jumlahnya mencapai 56 guru.

Melalui investasi pada peningkatan kapasitas guru, PT BEK berharap sekolah-sekolah di wilayah pedalaman tidak hanya mampu mengatasi kekurangan tenaga pendidik, tetapi juga memiliki guru yang lebih kompeten dan memenuhi standar kualifikasi nasional, sehingga kualitas pendidikan di daerah sekitar operasional perusahaan dapat terus meningkat. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60