MAHULU — Musim kemarau mulai menjadi tantangan serius bagi distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke wilayah hulu Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur. Menurunnya debit Sungai Mahakam membuat mobilisasi BBM menuju wilayah seperti Long Apari harus dilakukan dengan pengaturan distribusi yang lebih ketat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jalur sungai masih menjadi akses utama menuju Long Apari.
Sementara itu, akses darat Long Bagun–Long Apari hingga kini belum tersambung secara penuh.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menyebut ketersediaan BBM di Mahakam Ulu saat ini masih tersedia di lembaga penyalur.
Namun, tantangan utama berada pada proses mobilisasi BBM dari titik suplai menuju wilayah yang akses transportasinya terdampak kondisi kemarau.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan Pertamina terus melakukan pemantauan stok dan menyesuaikan pola distribusi berdasarkan kondisi jalur serta kebutuhan masyarakat.
“Di tengah kondisi akses yang terdampak, Pertamina melakukan pengaturan distribusi dan koordinasi secara intensif agar stok yang tersedia dapat disalurkan secara optimal sesuai kondisi jalur dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah,” katanya.
Menurut dia, Pertamina juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pengelola lembaga penyalur untuk menjaga kelancaran distribusi, terutama ke wilayah yang memiliki tantangan akses transportasi.
Tantangan distribusi BBM tersebut turut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar pada Senin (10/8/2026) di Ruang Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur.
Rapat yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur itu dihadiri Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Bulog, perangkat daerah terkait, serta perwakilan lembaga penyalur BBM di Mahakam Ulu.
Pertemuan tersebut membahas langkah bersama untuk menjaga kelancaran distribusi BBM dan kebutuhan pokok masyarakat di tengah kondisi kemarau yang berdampak terhadap akses transportasi.
Ia menjelaskan, stok BBM terus dimonitor melalui koordinasi dengan titik suplai di Fuel Terminal Samarinda.
Distribusi kemudian diatur secara situasional dengan mempertimbangkan stok, kondisi jalur transportasi, hingga kebutuhan masyarakat di setiap wilayah.
“Pertamina terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu, pengelola SPBU, dan pemangku kepentingan terkait untuk memperlancar mobilisasi BBM dari titik penampungan menuju wilayah yang membutuhkan,” ujarnya.
Kondisi geografis Mahakam Ulu menjadi salah satu faktor yang membuat distribusi BBM membutuhkan waktu dan biaya logistik lebih besar.
Terlebih, wilayah Long Apari masih mengandalkan jalur sungai, sementara penurunan muka air sungai dapat memengaruhi mobilitas angkutan.
Selain melakukan pengaturan distribusi, Pertamina juga mempertimbangkan aspek keselamatan dalam proses mobilisasi BBM, khususnya untuk wilayah yang masih bergantung pada transportasi sungai.
“Kami memahami kebutuhan masyarakat di Mahakam Ulu dan berupaya memastikan penyaluran BBM tetap berjalan dengan baik,” jelasnya.
Pertamina mengimbau masyarakat menggunakan BBM secara bijak, membeli sesuai kebutuhan, dan menggunakan BBM sesuai peruntukannya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk membantu menjaga ketersediaan BBM di tengah tantangan distribusi selama musim kemarau.
Pertamina memastikan pemantauan stok dan kondisi jalur distribusi dilakukan secara berkala bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.
Masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai layanan dan distribusi BBM dapat menghubungi Pertamina Customer Solutions 135. (*)








