PT BEK Tanam Investasi Pendidikan, Siapkan Pemimpin dari Ruang Kelas Pedalaman

KUBAR – Di balik aktivitas pertambangan yang memiliki batas waktu operasi, PT Bharinto Ekatama (PT BEK) memilih meninggalkan warisan yang diyakini akan bertahan jauh lebih lama: pendidikan.

Bagi perusahaan, investasi pada guru dan pendidikan bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan upaya menyiapkan generasi yang kelak akan memimpin daerahnya sendiri.

Pandangan itu menjadi dasar PT BEK mengembangkan berbagai program peningkatan kapasitas tenaga pendidik di wilayah sekitar operasional perusahaan.

Community Development Head PT Bharinto Ekatama, Kristinawati, mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur.

Menurutnya, pendidikan merupakan estafet yang menentukan keberlanjutan pembangunan di masa depan.

“Kami menyadari bahwa pendidikan merupakan bagian dari estafet pembangunan daerah. Kalau anak-anak di wilayah sekitar perusahaan tidak mendapatkan pendidikan yang baik, bayangkan 10 atau 20 tahun ke depan. Kita tidak akan memiliki pemimpin yang berasal dari daerah sendiri,” katanya.

Ia menilai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks.

Persaingan tidak lagi hanya terjadi antarmanusia, tetapi juga dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Karena itu, pendidikan menjadi bekal utama agar anak-anak di daerah tetap mampu bersaing.

Menurutnya, kegagalan meediakan pendidikan yang layak akan berdampak panjang karena daerah berisiko kehilangan generasi yang memiliki kapasitas memimpin dan membangun wilayahnya sendiri.

Atas dasar itulah perusahaan memilih memperkuat kualitas guru melalui berbagai program pengembangan kapasitas.

Guru dipandang sebagai aktor utama yang akan melahirkan generasi-generasi penerus.

“Kami mencoba berkontribusi untuk menyiapkan generasi berikutnya, salah satunya dengan memberikan kesempatan kepada para guru untuk meningkatkan pendidikan mereka. Guru-guru inilah yang nantinya akan mencetak generasi berikutnya. Minimal akan lahir guru-guru baru yang meneruskan tugas mereka, dan dari sanalah akan lahir generasi-generasi selanjutnya,” jelasnya.

Ia mengatakan aktivitas pertambangan pada akhirnya akan berakhir. Namun, investasi pada pendidikan akan terus hidup melalui generasi yang lahir dari tangan para pendidik.

“Mungkin 10 atau 20 tahun lagi aktivitas pertambangan sudah selesai. Namun, jika hari ini kami menanamkan investasi di bidang pendidikan, memberikan kesempatan kepada para guru untuk kuliah, maka dampaknya akan jauh lebih panjang,” ucapnya.

Menurut dia, pendidikan merupakan bentuk investasi sosial yang hasilnya tidak dapat dilihat dalam waktu singkat, tetapi akan memberikan pengaruh berkelanjutan terhadap pembangunan daerah.

Guru yang memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi diyakini akan melahirkan generasi baru yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Karena itu, perusahaan memandang penguatan kapasitas tenaga pendidik sebagai fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“Walaupun suatu saat perusahaan sudah tidak lagi beroperasi, manfaatnya tetap akan terasa melalui generasi-generasi yang dididik oleh para guru yang saat ini kami dukung, baik melalui program beasiswa maupun pemberian honor. Itulah dampak jangka panjang yang ingin kami bangun,” tuturnya.

Melalui pendekatan tersebut, PT BEK berharap warisan yang ditinggalkan tidak hanya berupa jejak aktivitas industri, tetapi juga sumber daya manusia yang berkualitas.

Investasi pada guru dinilai menjadi cara untuk memastikan manfaat perusahaan tetap dirasakan masyarakat, bahkan ketika aktivitas pertambangan telah berakhir. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60