Dingin: Pergi untuk Kembali , Ketika Cinta Tak Selalu Harus Segera Memiliki

Dingin: Pergi untuk Kembali karya Frans Samuel Armando Silalahi membawa pembaca pada kisah Eza dan Imey, dua sahabat yang sejak awal sebenarnya berdiri sangat dekat dengan garis bernama cinta.

Eza adalah laki-laki yang tenang dan cenderung menyimpan perasaan, sementara Imey hadir sebagai perempuan yang ekspresif, mandiri, kritis, dan tidak pernah malu menunjukkan apa yang ia rasakan.

Imey menyukai Eza. Ia bahkan tidak ragu memuji Eza, mengungkapkan perasaannya, dan menceritakan berbagai hal baik tentang Eza kepada kedua orang tuanya.

Bagi Imey, Eza bukan sekadar teman. Ada sesuatu yang membuatnya percaya bahwa laki-laki itu adalah seseorang yang akan selalu ada, seseorang yang bisa menjadi rumah.

Namun, Eza selalu mengatakan bahwa Imey hanyalah teman. Tidak lebih.

Bukan karena Eza tidak memiliki perasaan. Justru sebaliknya. Ia menyukai Imey, tetapi memilih menahan perasaannya.

Eza tahu bahwa Imey berasal dari keluarga berada, sementara dirinya harus berjuang dengan beasiswa untuk menyelesaikan pendidikan.

Baginya, mencintai seseorang bukan hanya tentang mengatakan cinta. Ada tanggung jawab yang lebih besar di balik sebuah hubungan.

Eza ingin ketika akhirnya ia memilih Imey, ia tidak hanya datang membawa perasaan, tetapi juga kesiapan.

Di situlah cara Eza mencintai menjadi menarik. Ia tidak banyak bicara tentang perasaannya, tetapi ia hadir melalui perhatian, kepedulian, dan kehangatan yang sederhana.

Sementara Imey mencintai dengan cara yang berbeda, terbuka, berani, dan terus hadir meskipun berkali-kali harus berhadapan dengan kalimat bahwa hubungan mereka hanyalah pertemanan.

Mereka seperti dua orang yang sedang memainkan lagu yang sama, tetapi memilih menyanyikan bagian yang berbeda.

Keduanya bahkan memiliki kesamaan-kesamaan kecil yang membuat hubungan mereka terasa semakin dekat. Playlist mereka dipenuhi lagu-lagu Iwan Fals.

Teman-teman mereka pun sudah lama berharap agar persahabatan itu berubah menjadi hubungan yang lebih serius.

Sebab, bagi orang-orang di sekitar mereka, Eza dan Imey sebenarnya sudah seperti pasangan yang belum diberi nama.

Sampai akhirnya, pada hari ulang tahun Imey, sesuatu yang selama ini ditunggu-tunggu terjadi. Eza memberanikan diri memberikan status pada hubungan mereka.

Tetapi seperti kehidupan pada umumnya, mendapatkan status bukan berarti mendapatkan akhir cerita yang bahagia selamanya.

Hubungan mereka kemudian dihadapkan pada pertengkaran, dilema, perbedaan cara berpikir, dan berbagai persoalan yang membuat keduanya harus kembali bertanya, apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan?

 

Tentang Cinta yang Terasa Personal

 

Ada bagian dari buku ini yang membuat saya merasa seperti sedang membaca sesuatu tentang diri sendiri.

Saya termasuk orang yang tidak mudah jatuh cinta. Namun, ketika sudah menyukai seseorang, saya bisa bertahan cukup lama selama orang tersebut masih bisa saya gapai. Karena itu, perjalanan Imey terasa begitu dekat.

Imey tetap mengagumi Eza meskipun pernah mendapatkan penolakan. Padahal, banyak orang mungkin akan memilih berhenti setelah perasaannya tidak diterima.

Tetapi Imey memilih tetap hadir. Bukan karena ia tidak memahami kemungkinan bahwa cintanya mungkin tidak berbalas, melainkan karena ia nyaman dengan apa yang sedang ia jalani.

Saya pun sedang berada pada fase yang kurang lebih sama, mengagumi seseorang dari batas yang mungkin sudah tidak lagi sepenuhnya normal.

Dia tahu saya menyukainya. Kami masih berteman baik. Bahkan, ada orang-orang yang melihat hubungan kami dan menganggapnya akan lebih baik jika diberi status. Namun, saya justru sudah nyaman dengan posisi sebagai teman.

Mungkin karena terkadang mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya. Ada kalanya kita hanya ingin tetap berada di dekatnya, menikmati percakapan, perhatian, dan kebersamaan yang sudah terbangun.

Tidak ada tuntutan untuk memiliki nama dalam hubungan tersebut. Cukup menjadi seseorang yang masih bisa saling menemukan ketika dunia sedang terlalu ramai. Karena itu, saya memahami Imey.

Ia tahu bahwa mungkin hubungan yang ia harapkan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Tetapi selama Eza masih menjadi seseorang yang bisa ia gapai, ia memilih tetap berada di sana.

 

Tentang Lelaki yang Memahami Arti Tanggung Jawab

 

Di sisi lain, Eza memberikan perspektif yang menarik tentang bagaimana seorang laki-laki memandang cinta.

Eza adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Ia baik kepada Imey, tetapi ia juga memahami bahwa cinta tidak selalu cukup untuk membangun kehidupan bersama. Baginya, ketika seseorang memilih pasangan, ada tanggung jawab yang ikut dipilih.

Ia tidak ingin sekadar berkata, “Aku mencintaimu,” tetapi tidak memiliki kesiapan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi orang yang dicintainya. Karena itu, Eza menahan perasaannya.

Ia bukan benar-benar menolak Imey. Ia hanya sedang menunggu dirinya sendiri sampai cukup siap.

Ia memilih berdamai terlebih dahulu dengan keadaan ekonominya, membangun kestabilan, dan memastikan bahwa ketika akhirnya ia datang kepada Imey, ia tidak datang hanya dengan modal cinta.

Bagi saya, di situlah salah satu sisi menarik dari karakter Eza.

Ia menunjukkan bahwa terkadang seseorang pergi atau menunda bukan karena tidak mencintai, melainkan karena ingin kembali dalam keadaan yang lebih siap.

Mungkin, inilah salah satu bentuk cinta yang paling dewasa: menunda kebahagiaan bukan karena tidak menginginkannya, tetapi karena ingin memastikan bahwa kebahagiaan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Menariknya lagi, Eza juga memahami bahwa perempuan sekuat dan semandiri Imey tetap membutuhkan tempat untuk bersandar.

Kemandirian bukan berarti seseorang tidak membutuhkan siapa pun. Perempuan yang terbiasa mengurus dirinya sendiri pun tetap berhak memiliki seseorang yang berkata, “Tidak apa-apa, kali ini biar aku yang menemani.”

 

Cinta yang Tidak Sederhana

 

Membaca Dingin: Pergi untuk Kembali membuat saya melihat cinta dari sudut yang sedikit berbeda.

Buku ini tidak hanya berbicara tentang siapa mencintai siapa. Ia juga berbicara tentang kesiapan, keadaan ekonomi, tanggung jawab, persahabatan, pengorbanan, dan keberanian untuk menunggu.

Cinta dalam buku ini tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata romantis. Kadang ia muncul sebagai perhatian kecil.

Kadang sebagai kesediaan untuk tetap tinggal. Kadang sebagai keputusan untuk menahan diri. Bahkan, kadang cinta justru hadir dalam bentuk pergi agar suatu hari bisa kembali dengan keadaan yang lebih baik.

Itulah yang membuat kisah Eza dan Imey terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Sebab dalam kehidupan, tidak semua orang yang saling mencintai bisa langsung bersama. Ada yang harus menunggu. Ada yang harus bertumbuh. Ada yang harus menyelesaikan persoalannya sendiri terlebih dahulu.

Mungkin, cinta yang paling dewasa bukanlah tentang seberapa cepat seseorang mengatakan “Aku mencintaimu,” melainkan tentang seberapa serius ia mempersiapkan dirinya untuk mempertanggungjawabkan kalimat tersebut.

Dengan gaya penulisan yang hangat dan puitis, Frans Samuel Armando Silalahi berhasil membawa pembaca menikmati kisah Eza dan Imey sekaligus mengajak kita bercermin pada cara kita sendiri dalam mencintai.

Dingin: Pergi untuk Kembali bukan hanya cerita tentang dua sahabat yang akhirnya menemukan jalan menuju hubungan.

Buku ini adalah cerita tentang dua manusia yang belajar bahwa mencintai seseorang berarti juga belajar memahami waktu, keadaan, dan kesiapan.

Pada akhirnya, ada cinta yang tidak benar-benar pergi. Ia hanya mengambil jarak. Untuk belajar. Untuk bertumbuh. Mungkin, untuk kembali.

 

Tentang Penulis

 

Frans Samuel Armando Silalahi

Pendidikan Terakhir: S2 Kebijakan Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Instagram: @koko_frns

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60