YOGYAKARTA — Ada persahabatan yang lahir dari pertemuan panjang. Ada pula yang bermula dari keputusan sederhana: tinggal bersama karena sama-sama sedang merantau dan membutuhkan tempat untuk pulang.
Bagi Aulia Waridin, Kristiani Tandi Rani, dan Rosnia Rahman, sebuah kamar di Kost Putri Mbak Bijin, Jalan Kutilang Nomor 12, Mrican, Caturtunggal, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi saksi perjalanan itu.
Pada Sabtu (22/8/2026), kisah mereka memasuki satu titik yang terasa istimewa.
Rosnia Rahman resmi menyandang gelar Magister Pendidikan setelah menjalani pendidikan Magister S2 Bimbingan dan Konseling.
Ia menjadi orang terakhir dari trio tersebut yang menyelesaikan prosesi wisuda.
Sementara itu, Aulia Waridin dan Kristiani Tandi Rani telah lebih dahulu diwisuda pada (24/6/2026) lalu.
Keduanya merupakan lulusan Magister S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Mereka bertiga merupakan mahasiswa angkatan Agustus 2024.
Tiga perempuan dari Indonesia Timur yang secara geografis berasal dari tempat berbeda, Aulia dari Manado, Kristiani dari Toraja, dan Rosnia dari Ambon, tetapi kemudian dipertemukan di sebuah kamar kost di Yogyakarta.
Bagi mereka, kamar itu sebenarnya bukan sekadar tempat tinggal.
Lebih tepatnya, tempat itu adalah markas kecil untuk bertahan hidup sebagai mahasiswa perantauan.
Mereka dikenal aktif selama kuliah sehingga kamar kost lebih sering berfungsi sebagai tempat singgah sebelum kembali menjalani kesibukan masing-masing.
Aulia aktif sebagai bagian dari tim riset, penulis, sekaligus konten kreator.
Rosnia merupakan awardee LPDP yang juga kerap menjadi mentor dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Sementara Kristiani menjalani kehidupan sebagai jurnalis di Yogyakarta yang menangani wilayah Sleman dan Bantul, sekaligus aktif berorganisasi sebagai Kepala Departemen Komunikasi dan Pemerhati PERMATA UNY serta menjalani internship di Humas UNY.
“Kami bertiga sebenarnya tidak pernah menjadikan kost sebagai tempat untuk berdiam diri. Kost itu cuma tempat tidur. Setelah itu kami kembali dengan kesibukan masing-masing. Mungkin justru karena itulah kami bisa bertahan bertiga selama kuliah, karena kami sama-sama punya dunia masing-masing, tetapi selalu punya tempat untuk pulang yang sama.” kata Kristiani.
Dari Ketoprak Rp10.000 hingga Pagar yang Harus Dipanjat
Menjalani hidup bersama di perantauan tentu tidak selalu identik dengan kehidupan mahasiswa yang serba nyaman.
Ada masa ketika uang harus dihitung sebelum memutuskan makan apa.
Ada pula hari ketika tugas kuliah lebih panjang daripada saldo rekening.
Mereka pernah makan ketoprak seharga Rp10.000.
Pernah mengerjakan tugas dari pagi hingga malam di Burjo Mrican atau Burjo Tugas Akhir dengan bermodalkan sekitar Rp5.000 per orang.
Untuk berjalan-jalan ke Malioboro, Trans Jogja menjadi kendaraan andalan.
Dengan ongkos sekitar Rp2.500, tiga anak rantau itu bisa mendapatkan hiburan sederhana tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
Ada pula ritual berburu makanan melalui ShopeeFood dan GrabFood dengan saldo di bawah Rp5.000.
Bukan karena mereka memiliki strategi keuangan yang luar biasa, melainkan karena kadang-kadang memang hanya itu uang yang tersedia.
Dalam kondisi tertentu, Aulia dan Kristiani bahkan ikut ke kafe bersama Rosnia tanpa membeli apa pun.
Rosnia, sebagai awardee LPDP, sering menjadi satu-satunya anggota trio yang kondisi keuangannya relatif aman.
Namun, cerita paling lucu mungkin terjadi ketika mereka pulang terlalu malam.
Pagar lorong kost biasanya sudah ditutup sekitar pukul 22.00.
Solusinya bukan menelepon satpam, bukan pula membuat laporan kepada pengelola kost.
Kadang mereka harus memanjat pagar.
Bagi tiga perempuan yang sedang mengejar gelar magister, memanjat pagar mungkin bukan bagian dari kurikulum akademik.
Tetapi pengalaman itu justru menjadi bagian dari cerita yang kelak sulit mereka ulang.
“Kalau diingat sekarang, lucu sekali. Dulu kami sering merasa hidup sedang susah karena harus mengatur uang, tugas, pekerjaan, organisasi, sampai urusan pulang malam. Tetapi ternyata justru hal-hal seperti ketoprak sepuluh ribu, nebeng ke kafe, berburu promo makanan, sampai manjat pagar itu yang paling kami ingat.” kisah Aulia.
Hari ini, jarak mulai kembali memisahkan mereka.
Aulia telah kembali ke Manado sejak bulan lalu. Kristiani kembali ke Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai jurnalis. Sementara Rosnia menjadi orang terakhir yang menjalani prosesi wisuda di Yogyakarta.
Karena itu, wisuda Rosnia pada 22 Agustus 2026 bukan sekadar seremoni akademik.
Bagi mereka, hari itu seperti halaman terakhir dari sebuah bab yang selama hampir dua tahun ditulis bersama.
Tiga Gelar, Tiga Jalan, Satu Mimpi
Perjalanan mereka memang dimulai dari kamar yang sama, tetapi setelah lulus, masing-masing akan membawa cerita ke tempat yang berbeda.
Aulia kembali ke Manado dengan pengalaman riset, menulis, dan berbagai aktivitas akademik.
Rosnia melanjutkan langkah sebagai lulusan Bimbingan dan Konseling sekaligus membawa pengalaman sebagai awardee LPDP dan mentor. Kristiani kembali ke Mahakam Ulu untuk menjalankan profesinya sebagai jurnalis.
Namun, ada satu hal yang mereka sepakati, persahabatan itu tidak boleh berhenti hanya karena kamar kost sudah kosong.
Mereka ingin persahabatan tersebut tetap bertahan, bahkan ketika masing-masing mulai memasuki fase kehidupan yang lebih serius.
Ada mimpi menjadi dosen, mengejar CPNS, meraih gelar profesor, menikah, hingga suatu hari kembali merantau bersama.
Bahkan, Australia pernah menjadi salah satu mimpi yang diam-diam mereka simpan.
Mereka membayangkan suatu hari bisa kembali berkumpul di negara lain, membawa profesi dan mimpi masing-masing, lalu mengingat bagaimana semuanya pernah dimulai dari sebuah kamar kost sederhana di Mrican.
Untuk urusan asmara, mereka pun punya doa masing-masing.
Aulia dan Kristiani, yang kini masih berada di usia kepala dua dan belum memiliki pasangan, berharap suatu hari perasaan mereka dibalas oleh orang yang mereka sukai.
Rosnia diharapkan segera menikah dengan “boskinya”, istilah bercanda mereka dan tentu saja menjadi sultan.
Mungkin terdengar seperti candaan biasa.
Tetapi begitulah cara mereka menyimpan harapan, dengan menertawakannya terlebih dahulu agar hidup terasa tidak terlalu berat.
“Kami ingin nanti kalau sudah sama-sama sukses, punya pekerjaan, mungkin sudah jadi dosen atau profesor, bahkan kalau sudah tinggal di negara lain, kami masih bisa cerita tentang kamar kost itu. Kami ingin suatu hari pergi ke Australia bersama. Kalau Tuhan izinkan, kami ingin merantau lagi bertiga. Bedanya, nanti bukan lagi mencari promo makanan lima ribu rupiah, tetapi sudah bisa traktir satu sama lain.” imbuh Rosnia.
Pada akhirnya, yang membuat perjalanan tiga mahasiswa itu berharga bukan hanya gelar Magister yang kini mereka sandang.
Ada masa ketika mereka hanya memiliki kamar kecil untuk pulang, uang yang harus dihitung, tugas yang harus diselesaikan, pekerjaan yang tidak mengenal jam, serta pagar yang kadang harus dipanjat.
Ada ketoprak Rp10.000, Burjo Mrican, Trans Jogja Rp2.500, promo makanan, dan kafe tempat dua orang datang tanpa membeli apa-apa.
Hal-hal kecil itulah yang kelak mungkin menjadi kemewahan paling mahal untuk dikenang.
Sebab gelar Magister bisa dicetak dalam ijazah.
Tetapi kisah tiga anak Timur yang bertemu di sebuah kamar kost, bertahan bersama di Yogyakarta, lalu pergi membawa mimpi masing-masing, tidak pernah punya cetakan ulang.
Pada (22/8/2026), ketika Rosnia akhirnya mengenakan toga, mereka tahu satu hal, kisah itu telah selesai, tetapi persahabatannya belum. (*)








