MAHULU – Musim kemarau mulai memengaruhi aktivitas transportasi sungai di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur.
Kondisi tersebut berdampak terhadap kelancaran distribusi kebutuhan pokok ke wilayah yang masih mengandalkan jalur sungai.
Camat Long Apari, Petrus Ngo, mengatakan kondisi sungai yang mengalami penurunan debit membuat sejumlah moda transportasi sungai tidak dapat beroperasi secara normal.
“Apalagi sekarang kemarau, jadi kami di sini tidak bisa bergerak. Spit tidak jalan, longboat juga tidak jalan,” katanya, Minggu (9/8/2026).
Meski distribusi menghadapi kendala, ia memastikan stok kebutuhan pokok di sejumlah toko masih tersedia.
Pasokan barang dikirim menggunakan kendaraan dari wilayah seberang dan diturunkan di Long Rondo sebelum kembali diangkut menuju Long Apari.
“Toko-toko itu memasukkan barang menggunakan mobil dari seberang, turun di Long Rondo. Nah, toko-toko itu pergi menjemput barangnya di sana menggunakan mesin cas atau ketinting. Cuma, dari situ harganya pasti mahal,” ujarnya.
Menurutnya, rantai distribusi yang lebih panjang membuat biaya angkutan ikut meningkat.
Kondisi tersebut kemudian berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok yang harus dibayar masyarakat.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Mahulu juga melakukan intervensi melalui kegiatan sembako murah yang dilaksanakan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
Program tersebut menjadi salah satu langkah untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan harga selama musim kemarau.
“Ada juga kegiatan sembako murah dari Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu melalui DKPP. Kami terus memantau,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga kini stok kebutuhan pokok masih tersedia di sejumlah toko.
Kondisi tersebut terbantu dengan akses jalan yang telah mencapai Long Lunuk sehingga masyarakat maupun pedagang dapat menjemput barang menggunakan ketinting.
“Puji Tuhan, jalan sudah sampai di Long Lunuk dan mereka bisa pergi menjemput barang menggunakan ketinting. Cuma, harganya mahal. Walaupun mahal, yang penting barangnya masih ada,” ucapnya.
Ia menjelaskan, sebagian masyarakat masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari karena memiliki sumber penghasilan, salah satunya dari aktivitas mendulang emas.
Namun, kondisi berbeda dapat dirasakan masyarakat yang tidak memiliki usaha atau penghasilan tetap. Kenaikan harga menjadi lebih berat ketika kemampuan ekonomi rumah tangga terbatas.
“Masyarakat masih sanggup membeli karena mereka juga punya pekerjaan, misalnya mendulang emas dan mendapatkan emas. Yang susah itu ketika masyarakat tidak punya usaha dan tidak ada penghasilan,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi kenaikan harga akibat terbatasnya distribusi bukan persoalan baru bagi masyarakat Long Apari.
Setiap kali pasokan terganggu, terutama pada musim kemarau, harga sejumlah kebutuhan pokok berpotensi meningkat.
“Seperti dulu, ketika ada bahan sembako yang langka, harganya juga mahal,” imbuhnya.
Wakil Bupati Mahulu, Suhuk, mengatakan pemerintah daerah memahami kondisi geografis tersebut dan berupaya memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia.
“Pemkab Mahulu memahami kondisi wilayah Long Apari yang masih sangat bergantung pada transportasi sungai sebagai jalur utama distribusi barang. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika memasuki musim kemarau,” tambahnya. (*)








